Breaking

Sabtu, 11 Agustus 2018

Berbekal Buku Cantik, Siswa dan Siswi SMAN 10 Batanghari Sukses Terbitkan Buku Cerpen


MUARA BULIAN - Berbekal catatan buku cantik berisikan pengalaman sehari-hari, menjadi awal keberhasilan enam siswa SMAN 10 Kabupaten Batanghari terbitkan sebuah buku cerpen.
'Your Heart is My Heart' adalah judul buku cerpen yang telah diterbitkan dari hasil karya siswa dan siswi pilihan SMAN 10 Batanghari.
Buku dengan lembar halaman mencapai 200-an lembar tersebut, dibuat berdasarkan kumpulan cerpen dari inspirasi kehidupan sehari-hari dari keenam siswa yang tergabung dalam tim penulis cerita laponten (TPCL) di bawah binaan seorang Guru Bahasa indonesi SMA 10 sekaligus pendiri TPCL dan pembimbing laponten Dewi Wulan Sari SE.
Keenam siswa tersebut ialah, Rendi Syaputra, Febriyatul Khairiyah, Riska Novita Sari, Denisa Riska Mulia, Riska Rusmalinda, dan Siti Stalis Fiana Darazah. Tergabung dalam group TPCL terdiri dari, siswa dan siswi kleas 11 dan 13.
Perbincangan hangat tribunjambi bersama siswa dan siswi pilihan SMA 10 didampingi seorang guru yang tak kalah cantik tersebut, diselingi dengan guyonan ditemani keceriaan para siswa yang tengah bermain di halaman sekolah.
Dikatakan Guru Pembimbing Laponten atau yang kerap disapa Ibu Dewi tersebut mengatakan, banyak proses dan usaha yang besar untuk dapat menyatukan imajinasi dari masing-masing otak yang berbeda untuk dituangkan dalam sebuah karya berbentuk satu buku seperti saat ini.
Semua dan hal apapun yang dimulai dari nol pasti akan menemukan kesulitan, namun dengan seiring waktu dan bimbingan tentunya. Semua itu dapat dilalui dengan menghasilkan sebuah karya yang sangat memuaskan dan membanggakan tidak hanya bagi individu itu sendiri namun juga bagi banyak pihak.
Dikatakannya pula, awal mula keenam siswa ini terpilih sebagai penulis cerpen bukan secara instan, namun harus melalui seleksi dan penjaringan. Masing masing dari mereka juga memiliki kemampuan dan kelebihannya masing-masing dan hobi menulis dari genre yang berbeda-beda pula.
"Ada yang menulis cerpen berdasarkan inspirasi dari keseharian di rumah, ada yang berdasarkan pengalaman keluarga, ada yang dari inspirasi medsos dan ada pula yang menghasilkan cerpen hanya dari melamun sejenak. Semua ada pada mereka dan inilah hasil karya mereka," ujar Ibu berkaca mata tersebut.
Untuk mengasah kemampuan mereka dan menimbulkan ide kreatif untuk dituangkan dalam sebuah tulisan, anggota TPCL wajib memiliki " Buku Cantik" (buku saku) yang mana buku tersebut selalu dibawa kemanapun berada sehingga dalam satu minggu ada satu cerpen yang dihasilkan dari buku cantik tersebut. Dengan demikian mereka dapat membiasakan menulis, dan mendapatkan ide-ide menarik yang berbeda disetiap tulisannya (cerpen). Selain itu juga untuk menimbulkan gairah dalam menulis di diri mereka.
"Kita bekerja bukan sekedar kata, namun pembuktian," Itulah Moto yang selalu di pegang TPCL
Dari metode tersebut terbukti sudah ada satu karya buku yang tercipta, dalam kurun waktu satu tahun. Akhirnya cerpen mereka tersebut dapat disatukan dalam sebuah buku yang didalamnya terdapat beberapa cerpen.
Dijelaskannya pula, masing masing personil tersebut juga bukan sekedar hobi menulis dan menghasilkan sebuah cerpen saja. Melainkan masing-masing mereka memiliki prestasi yang membanggakan baik kompetisi menulis tingkat sekolah hingga provinsi bahkan kompetisi yang diadakan Kabupaten di luar Sumatra, dengan peserta umum bahkan kalangan dosen.
"Untuk Febi misalnya pernah menjadi juara dalam ajang menulis yang diadakan penerbit HANAMI di Jember, untuk kategori tingkat umum. Luar biasanya dirinya mampu bersaing dengan peserta dari kalangan dosen," ujarnya.
Sementara itu, bagi para penulis cilik ini sendiri banyak memiliki cerita tersendiri dalam menghasilkan sebuah cerpen.
Dan mereka tidak sungkan berbagi cerita bersama Tribun bagi mereka menulis merupakan hal rutin yang harus dilakukan setiap hari sehingga jika hal tersebut tidak dilakukan maka akan ada yang kurang dalam menjalani hari.
"Kesulitan dan jenuh itu pasti ada, itulah gunanya tim dan teman untuk saling menguatkan ketika satu dari kita mengalami hal tersebut," ujar Riska satu dari penulis cerpen.
Febi misalnya, selain tergabung dalam TPCL dan membuat sebuah buku cerpen,  juga telah lebih dulu membuat sebuah cerpen dalam bentuk buku syang berjudul "Sepenggal cinta untuk papa" yang diilhami berdasarkan kisah kehidupan keluarga, dan pengalaman pribadi.
"Terkadang banyak hal yang terjadi secara spontan namun kerap ditemukan dikehidupan sehari-hari, dan itu bisa menjadi awal untuk penulisan cerpen," ujar gadis berkerudung tersebut.
Meski demikian, berprestasi dan membuat bangga baik sekolah maupun orang tua. Kegitan ekstra kulikuler tersebut tidak mengaganggu tugas pokok dan status mereka sebagai pelajar.
Diantaranya dengan membagi waktu dimbangi dengan jadwal sekolah.
 "Kuncinya harus pandai mengatur waktu, menulis itu harus santai dan rileks ada yang menulis setelah melihat youtube, ada yang usai bengong, ada juga yang memanfatkan waktu subuh. Jadi tidak harus malam ataupun saat jam sekolah," Jelasnya lagi
Meski mereka telah berhasil menerbitkan sebuah buku cerpen, namun TPCL masih memiliki target kedepan. Tentunya akan menerbitkan satu karya lagi, namun apa itu masih dirahasikan dan dalam perancangan namun tetap mengangkat tema budaya lokal.
" Sekarang kita sedang fokus untuk mengikuti lomba penulisan cerpen kalangan SMA ditingkat provinsi," pungkas Dewi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman