Breaking

Jumat, 20 September 2019

Manuver Adirozal Blunder,Dinilai Politik Pecah Belah


Kerinci,-Geliat Al Haris di ranoh kincai kian intens seusai pertemuan lima bupati di Kayu Aro, Kerinci, sepekan lalu. Mulai menggempur wilayah ujung paling barat Provinsi Jambi, Al Haris memperoleh karpet merah dari Bupati Kerinci, Adi Rozal.

Langkah politik Adi Rozal membuka jalan bagi Al Haris di Kerinci menuai kritik.

Mulyadi, salah satu tokoh Kerinci menyebut langkah Adi Rozal bersama empat bupati itu tak layak diacungkan jempol.

“AJB sebagai Walikota Sungai Penuh tak diikutkan. Cara seperti ini tidak bertata krama,”kritik Mulyadi yang disampaikan secara terbuka lewat akun jejaring pertemanan Facebook pada 16 September 2019.

Selain tak elok, Mulyadi mengatakan langkah Adi Rozal bersama empat bupati memicu pembelahan warga Kerinci dan Sungai Penuh.

“Sedangkan keduanya serumpun,”ujarnya.

Mulyadi lantas menyinggung perlakuan empat bupati terhadap warga Kerinci perantauan di daerahnya.

Kritik juga datang dari Nanda Pratama, seorang aktivis sekaligus mahasiswa pasca sarjana Unja asal Kerinci. Menurutnya, langkah Adi Rozal memfasilitasi salah satu kandidat gubernur justru merugikan etnis Kerinci.

Langkah itu semakin mempertegas bahwa tokoh dan warga Kerinci tak satu suara.

“Sikap Bupati Kerinci blunder. Ia bisa memecah suara Kerinci dan Sungai Penuh,”ujarnya.

Aktivis asal Kerinci lainnya, Wahyu Hidayat mengimbuhkan langkah Adi Rozal itu seakan ia sengaja menciptakan front atau lawan terbuka terhadap tokoh Kerinci yang tengah bersiap berlaga. Setidaknya dua tokoh Kerinci yang nampak serius berlaga antaralain Walikota Sungai Penuh Asafri Jaya Bakri dan Ramli Thaha, Ketua HKK Indonesia.


“Pertemuan itu makin memperuncing pembelahan di Kerinci. Ini merugikan karena peluang mendah kincai menang di Pilgub kian menipis. Sebab warganya terpecah-belah,”katanya.

Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Unja ini berharap Adi Rozal dan tokoh Kerinci lainnya mampu menciptakan soliditas, bukan malah memperuncing pembelahan.


Al Haris tak main-main menggarap basis Kerinci. Di berbagai kesempatan, Haris menyebut di tubuhnya mengalir darah Kerinci. Bahkan, ia tak malu-malu menyebut bagian dari etnis Kerinci.

Peneliti Pusat Kajian Politik (Puskapol), Dr Dedek Kusnadi mengatakan Al Haris tengah menjalankan politik identitas konstruktif. Menurutnya, untuk menggalang dukungan, ia sengaja mengkonstruksi agar dianggap menjadi bagian dari komunitas itu.

Dedek lantas mencontohkan praktik jual-beli sertifikat keturunan raja di suatu daerah. Menurutnya, sertifikat cucu cultan kini bisa di beli. Siapa punya duit bisa mendapat gelar cucu Sultan.

“Dalam politik, itu bagian dari cara mendapatkan modal simbolik. Supaya dianggap keturunan Sultan. Sehingga orang rebutan ingin menjadi cucu Sultan. Ada yang berebut ingin menguasai makam Sultan. Macam-macam lah,”jelasnya.

Cara inilah yang menurut Dedek, tengah dikonstruksi Haris di Kerinci. Mengutip akademikus Manuel Castles, kata Dedek, Identitas itu bisa dibangun. Misalnya, seseorang yang bermodal mata sipit, lantas bisa mengklaim keturunan Tiongkok ketika ia berziarah ke negeri tirai bambu itu.

Haris memang mengklaim punya datuk yang berasal dari pulau sangkar dan istrinya berdarah Lempur.

Menurut Dedek, tokoh Kerinci mesti bersatu dan solid jika ingin mendudukkan etnisnya di Pilgub mendatang.(*)

Sumber: Jambilink.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman