Breaking

Selasa, 09 Juni 2020

Viral,Brigadir Diko Gapai Harapan Masyarakat Hamparan Rawang Melalui Sawah Apung










Pagi itu, tampak sedang meratakan tumpukan tanaman eceng gondok yang membusuk ke atas getek atau rakit bambu dan selanjutnya ditutupi dengan tanah.

Mereka yang diketahui bernama Azmir, dan rekannya itu tengah menyiapkan media untuk menanam padi menggunakan sawah apung atas bimbingan Seorang Polisi Babinkabtibmas Polsek Air Hangat Timur yang benama Diko Bemiyerdi.



Satu hal yang mereka harapkan dari sawah apung itu, yakni meningkatkan produktivitas pertanian karena selama ini hanya dapat menanam padi satu kali dalam setahun atau saat musim kemarau.

Dalam hal ini, dari luasan lahan sawah di Desa Paling Serumpun, Kecamatan Hamparan Rawang yang  di antaranya selalu tergenang banjir terutama saat musim hujan merupakan daerah rawa.

"Sawah di sini sering gagal panen karena kebanjiran," kata salah seorang petani azwir.



Dia mengaku baru mengetahui cara bercocok tanam menggunakan sawah apung seperti yang sedang diujicobakan ini dari petunjuk seorang oknum polisi polres Kerinci brigadir Diko.

Dengan demikian ketika genangan airnya sedang tinggi, petani tidak khawatir gagal panen karena sawah apung itu akan mengikuti tinggi-rendahnya genangan air.

"Hanya saja, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyiapkan sawah apung lebih banyak jika dibandingkan untuk mengolah sawah konvensional. Yang membuat lebih mahal adalah biaya untuk mempersiapkan media atau tempatnya karena bisa dua kali lipat dari biaya persiapan sawah konvensional yang mencapai kisaran Rp500 ribu per 100 ubin," katanya.

Akan tetapi jika tempat menanamnya (getek, red.) sudah ada, biaya yang harus dikeluarkan bisa dikurangi.



Terkait dengan uji coba pengembangan sawah apung, Babinkamtibmas Air Hangat Timur  Brigadir Diko Bemiyerdi mengatakan hal itu berawal dari upaya pemanfaatan sumber daya air khususnya di lahan sawah sekitaran Kecamatan Hamparan Rawang  yang airnya berlebih atau selalu tergenang banjir saat musim hujan tiba.

"Sebenarnya (masalah sawah) itu ranahnya Dinas Pertanian, sedangkan saya hanya seorang polisi yang ingin membantu masyarakat, mencoba memanfaatkan airnya, karena kami mengurusi airnya (pengairan, red.)," kata diko.

Menurut dia, sawah apung tersebut pertamakali diujicobakan di Desa paling serumpun Kecamatan Hamparan Rawang, yang kondisi lahan sawahnya seperti sulit untuk digarap seperti lahan sawah lainnya.

Kendati demikian, hasil panen padi dari sawah apung tersebut mampu menambah penghasilan petani karena selama ini sebagian besar area persawahan di Desa paling serumpun hanya mampu ditanami padi satu kali dalam setahun, yakni saat musim kemarau.

"Sebelum melakukan uji coba di sini, saya sudah mengukur kadar pH-nya karena lokasinya merupakan daerah rawa. Dari hasil pengukuran, pH-nya mencapai 9 namun masih berada pada batas toleransi pH untuk tanaman padi yang berkisar 7-10," katanya.

Sawah apung itu dibuat dengan menggunakan getek yang terbuat dari bambu yang selanjutnya ditutupi gulma atau eceng gondok yang membusuk untuk kapilaritas air, sedangkan bagian atas gulma ditutupi dengan tanah sawah sebagai media tanam.

Sebelum ditanami padi, sawah apung tersebut diberi pupuk berupa air kencing kelinci yang telah difermentasi selama 30 hari guna mengurangi ketergantungan pupuk kimia yang akan diberikan setelah tanaman berusia 20 hari setelah tanam.

"Sawah apung ini akan bergerak naik dan turun mengikuti tinggi genangan air sehingga tanamannya tidak terendam," katanya.
   

Prospektif Dikembangkan

Lanjut Diko, sawah apung merupakan sebagai teknologi inovatif budi daya tanaman padi menggunakan rakit atau getek sangat prospektif dikembangkan di daerah rawan banjir.

"Teknologi ini bisa menjadi upaya yang dapat memecahkan masalah terutama dalam mengantisipasi perubahan iklim global, khususnya untuk antisipasi curah hujan tinggi berkepanjangan," ungkapnya.

Dengan teknologi sawah apung, petani di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi tetap mampu mempertahankan produksinya ketika sawahnya tergenang.

Terkait dengan hal itu, dia mengaku siap membantu jika memiliki waktu dan pengetahuan yang dibutuhkan petani dalam budi daya padi.(DiE)
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman